Wednesday, 22 October 2008

Berpikir Sederhana untuk Sebuah Solusi

Berpikir Sederhana untuk Sebuah Solusi
Sumber; KOMPAS/KLASIKA, Senin, 13 Oktober 2008

Kalimat di atas mungkin sudah sering didengar. Namun, bagaimana dengan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari? Tidak bisa dimungkiri, sebuah masalah kerap menghadang dan menuntut kebijakan dari dalam diri untuk mengatasinya.

Terlebih dalam dunia kerja, adanya masalah bagaikan makanan sehari-hari yang harus dijalani. Sayangnya, kerap terjadi masalah yang ada justru menjadi berlarut-larut karena setiap orang berusaha untuk mencari tahu subyek yang bersalah dan terlanjur terbawa emosi. Dalam keadaan yang membutuhkan keputusan cepat, fokus pada masalah seperti ini tidaklah tepat. Atau, kalaupun tercapai solusi ternyata malah membuat keadaan lebih panik.

Untuk itu, cobalah untuk selalu berpikir sederhana saat menemui masalah, dengan menggunakan prinsip fokus pada solusi, buan pada masalah. Dengan demikian, serumit apapun masalah yang dihadapi bisa diselesaikan. Ambil contoh, para astronot NASA dulu kesulitan menggunakan bolpen ketika dalam kondisi gravitasi nol. Pasalnya, tinta bolpen tidak mau turun dan keluar. Menghabiskan waktu yang lama dan biaya yang tak sedikit, mereka pun membuat penemuan bolpen yang bisa digunakan dalam segala kondisi, termasuk jika gravitasi nol. Sementara para astronot dari Rusia berpikir sederhana namun efektif dan efisien, yaitu mengunakan pensil.

Dalam dunia kerja sehari-hari, cara berppikir ini juga dapat meredamkan masalah yang ada, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas bekerja yang sangat dibutuhkan manajemen perusahaan. Setelah masalah terselesaikan, barulah dirunut secara kronologis, dengan kepala dingin, agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Lagipula, ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari cara berpikir seperti ini. Antara lain, dengan diredamnya masalah, setiap orang pun bisa menghinadi konflik yang lebih runcing, sehingga hubungan dengan rekan kerja bisa tetap terjalin dengan baik. Hal ini tentu akan mempermudah pekerjaan, terutama jika sifatnya kerja tim. Di sisi lain, bukan hanya dalam dunia kerja, cara berpikir tersebut juga dapat diaplikasikan dalam menjalani segala hal, seperti kehidupan rumah tangga, sosial, dan lainnya.


Salam sukses,


Junaedi
081310004288


Berpikir Sederhana untuk Sebuah Solusi

Berpikir Sederhana untuk Sebuah Solusi
Sumber; KOMPAS/KLASIKA, Senin, 13 Oktober 2008

Kalimat di atas mungkin sudah sering didengar. Namun, bagaimana dengan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari? Tidak bisa dimungkiri, sebuah masalah kerap menghadang dan menuntut kebijakan dari dalam diri untuk mengatasinya.

Terlebih dalam dunia kerja, adanya masalah bagaikan makanan sehari-hari yang harus dijalani. Sayangnya, kerap terjadi masalah yang ada justru menjadi berlarut-larut karena setiap orang berusaha untuk mencari tahu subyek yang bersalah dan terlanjur terbawa emosi. Dalam keadaan yang membutuhkan keputusan cepat, fokus pada masalah seperti ini tidaklah tepat. Atau, kalaupun tercapai solusi ternyata malah membuat keadaan lebih panik.

Untuk itu, cobalah untuk selalu berpikir sederhana saat menemui masalah, dengan menggunakan prinsip fokus pada solusi, buan pada masalah. Dengan demikian, serumit apapun masalah yang dihadapi bisa diselesaikan. Ambil contoh, para astronot NASA dulu kesulitan menggunakan bolpen ketika dalam kondisi gravitasi nol. Pasalnya, tinta bolpen tidak mau turun dan keluar. Menghabiskan waktu yang lama dan biaya yang tak sedikit, mereka pun membuat penemuan bolpen yang bisa digunakan dalam segala kondisi, termasuk jika gravitasi nol. Sementara para astronot dari Rusia berpikir sederhana namun efektif dan efisien, yaitu mengunakan pensil.

Dalam dunia kerja sehari-hari, cara berppikir ini juga dapat meredamkan masalah yang ada, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas bekerja yang sangat dibutuhkan manajemen perusahaan. Setelah masalah terselesaikan, barulah dirunut secara kronologis, dengan kepala dingin, agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Lagipula, ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari cara berpikir seperti ini. Antara lain, dengan diredamnya masalah, setiap orang pun bisa menghinadi konflik yang lebih runcing, sehingga hubungan dengan rekan kerja bisa tetap terjalin dengan baik. Hal ini tentu akan mempermudah pekerjaan, terutama jika sifatnya kerja tim. Di sisi lain, bukan hanya dalam dunia kerja, cara berpikir tersebut juga dapat diaplikasikan dalam menjalani segala hal, seperti kehidupan rumah tangga, sosial, dan lainnya.


Salam sukses,


Junaedi
081310004288


Berpikir Sederhana untuk Sebuah Solusi

Berpikir Sederhana untuk Sebuah Solusi
Sumber; KOMPAS/KLASIKA, Senin, 13 Oktober 2008

Kalimat di atas mungkin sudah sering didengar. Namun, bagaimana dengan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari? Tidak bisa dimungkiri, sebuah masalah kerap menghadang dan menuntut kebijakan dari dalam diri untuk mengatasinya.

Terlebih dalam dunia kerja, adanya masalah bagaikan makanan sehari-hari yang harus dijalani. Sayangnya, kerap terjadi masalah yang ada justru menjadi berlarut-larut karena setiap orang berusaha untuk mencari tahu subyek yang bersalah dan terlanjur terbawa emosi. Dalam keadaan yang membutuhkan keputusan cepat, fokus pada masalah seperti ini tidaklah tepat. Atau, kalaupun tercapai solusi ternyata malah membuat keadaan lebih panik.

Untuk itu, cobalah untuk selalu berpikir sederhana saat menemui masalah, dengan menggunakan prinsip fokus pada solusi, buan pada masalah. Dengan demikian, serumit apapun masalah yang dihadapi bisa diselesaikan. Ambil contoh, para astronot NASA dulu kesulitan menggunakan bolpen ketika dalam kondisi gravitasi nol. Pasalnya, tinta bolpen tidak mau turun dan keluar. Menghabiskan waktu yang lama dan biaya yang tak sedikit, mereka pun membuat penemuan bolpen yang bisa digunakan dalam segala kondisi, termasuk jika gravitasi nol. Sementara para astronot dari Rusia berpikir sederhana namun efektif dan efisien, yaitu mengunakan pensil.

Dalam dunia kerja sehari-hari, cara berppikir ini juga dapat meredamkan masalah yang ada, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas bekerja yang sangat dibutuhkan manajemen perusahaan. Setelah masalah terselesaikan, barulah dirunut secara kronologis, dengan kepala dingin, agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Lagipula, ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari cara berpikir seperti ini. Antara lain, dengan diredamnya masalah, setiap orang pun bisa menghinadi konflik yang lebih runcing, sehingga hubungan dengan rekan kerja bisa tetap terjalin dengan baik. Hal ini tentu akan mempermudah pekerjaan, terutama jika sifatnya kerja tim. Di sisi lain, bukan hanya dalam dunia kerja, cara berpikir tersebut juga dapat diaplikasikan dalam menjalani segala hal, seperti kehidupan rumah tangga, sosial, dan lainnya.


Salam sukses,


Junaedi
081310004288


Wednesday, 8 October 2008

Ini Dia Usaha Sejuta Umat

Ada satu jenjang lagi yang boleh dibilang sudah mewabah ke mana-mana. Bahkan, kalau mau disebut, hingga ke kamar pun bisa. Yakni, menjadi penjual voucher fisik dan elektrik ke para konsumen langsung alias and user.

Siapa pun bisa melakukan usaha ini. Para manajer, karyawan, ibu rumah tangga, mahasiswa, siswa sekolah, hingga para penganggur sekalipun dapat menjadi pengusaha pulsa isi ulang.

Pertanyaannya adalah, apakah masih ada celah? Tentu saja masih. Asalkan, sekali lagi, Andamesti sunggug-sungguh dalam menjalankan usaha yang siapa tau membuat kocek Anda semakin tebal.

Lihat saja pengalaman Desi Marwati. Untuk melengkapi toko kelontongnya, ia tidak sungkan-sungkan melengkapi barang dagangannya dengan menjual voucher fisik dan elektrik. Usaha yang sudah ia lakoni sejak tahun 2005 ini pun semakin berkembang. Saat ini, Desi kerap menghabiskan uang hingga Rp 20 juta setiap bulannya untuk membeli pulsa.

Padahal, tiga tahun silam, Desi cuma menaruh modal untuk beli pulsa tidak lebih dari Rp 5 juta saja. Desi memang beruntung. Modal yang lainnya tidak perlu ia keluarkan. Misalnya, membuat kios khusus. Pasalnya, ia tinggal menaruh berbagai voucher fisik disalah satu sisi toko kelontongnya.

Calon peritel voucher juga bisa mengekor desi. Bahkan, cara tersebut merupakan cara yang paling ampuh untuk menghemat dana. Anda bisa berjualan voucher di halaman rumah atau garasi Anda. Yang penting, calon lahan bisnis Anda cukup luas menampung etalase untuk memajang produk. Ukuran etalse standar adalah 1,5 m2. Etalase ini bisa dibeli di toko atau bisa pula Anda buat.

Kemudian, tinggal mencari para agen atau tempat grosir membeli pulsa, entah itu fisik atau elektrik. Anda bisa langsung menyambangi para agen dan grosir yang dapat dipercaya dan meberikan pelayanan yang prima. Agen dan grosir pemasok pulsa fisik dan elektrik tersebar luar si mall-mall, ITC yang mengkhususkan diri sebagai pusat elektronik seperti ITC Roxi, ITC Cempaka Mas, PGC Cililitan dll.

Para agen dan grosir pemasok pulsa meminta sejumlah deposit yang harus dibayar pemilik kios. Besar setoran deposit untuk pulsa elektrik besarnya beragam tergantung dari kebijakan masing-masing agen atau grosir. Ada yang mencantumkan angka ratusan ribu rupiah plus uang pendaftaran hingga jutaan rupiah.

Tapi, Desi menyarankan agar Anda kudu keluar dana tidak cuma angka ratusan ribu rupiah saja. Sebaiknya, modal minimal Rp 1 juta atau juga bisa lebih, saran Desi.

Setelah semua modal dagang voucher sudah terkumpul, Anda tinggal memasarkan voucher itu. Berapa pelanggan yang datang tentu sangat bergantung dari lokasi kios Anda, serta seberapa bagus Anda melayani pembeli.

Ada baiknya Anda melakukan promosi harga terlebih dahulu. Caranya, pajang saja papan harga di depan kios. Sipa tahu, ada pembeli yang kepincut dengan tawaran harga yang Anda buat.

Anda harus memburu banyak pembeli agar keuntungan Anda gendut. Pasalnya, margin keuntungannya cuma 2% - 3% saja.


Salam sukses,


Junaedi
http://www.maximart.co.cc
http://www.maxiphone.co.cc


Disadur dari Harian Kontan Edisi Khisus Semptember - Oktober 2008



Ini Dia Usaha Sejuta Umat

Ada satu jenjang lagi yang boleh dibilang sudah mewabah ke mana-mana. Bahkan, kalau mau disebut, hingga ke kamar pun bisa. Yakni, menjadi penjual voucher fisik dan elektrik ke para konsumen langsung alias and user.

Siapa pun bisa melakukan usaha ini. Para manajer, karyawan, ibu rumah tangga, mahasiswa, siswa sekolah, hingga para penganggur sekalipun dapat menjadi pengusaha pulsa isi ulang.

Pertanyaannya adalah, apakah masih ada celah? Tentu saja masih. Asalkan, sekali lagi, Andamesti sunggug-sungguh dalam menjalankan usaha yang siapa tau membuat kocek Anda semakin tebal.

Lihat saja pengalaman Desi Marwati. Untuk melengkapi toko kelontongnya, ia tidak sungkan-sungkan melengkapi barang dagangannya dengan menjual voucher fisik dan elektrik. Usaha yang sudah ia lakoni sejak tahun 2005 ini pun semakin berkembang. Saat ini, Desi kerap menghabiskan uang hingga Rp 20 juta setiap bulannya untuk membeli pulsa.

Padahal, tiga tahun silam, Desi cuma menaruh modal untuk beli pulsa tidak lebih dari Rp 5 juta saja. Desi memang beruntung. Modal yang lainnya tidak perlu ia keluarkan. Misalnya, membuat kios khusus. Pasalnya, ia tinggal menaruh berbagai voucher fisik disalah satu sisi toko kelontongnya.

Calon peritel voucher juga bisa mengekor desi. Bahkan, cara tersebut merupakan cara yang paling ampuh untuk menghemat dana. Anda bisa berjualan voucher di halaman rumah atau garasi Anda. Yang penting, calon lahan bisnis Anda cukup luas menampung etalase untuk memajang produk. Ukuran etalse standar adalah 1,5 m2. Etalase ini bisa dibeli di toko atau bisa pula Anda buat.

Kemudian, tinggal mencari para agen atau tempat grosir membeli pulsa, entah itu fisik atau elektrik. Anda bisa langsung menyambangi para agen dan grosir yang dapat dipercaya dan meberikan pelayanan yang prima. Agen dan grosir pemasok pulsa fisik dan elektrik tersebar luar si mall-mall, ITC yang mengkhususkan diri sebagai pusat elektronik seperti ITC Roxi, ITC Cempaka Mas, PGC Cililitan dll.

Para agen dan grosir pemasok pulsa meminta sejumlah deposit yang harus dibayar pemilik kios. Besar setoran deposit untuk pulsa elektrik besarnya beragam tergantung dari kebijakan masing-masing agen atau grosir. Ada yang mencantumkan angka ratusan ribu rupiah plus uang pendaftaran hingga jutaan rupiah.

Tapi, Desi menyarankan agar Anda kudu keluar dana tidak cuma angka ratusan ribu rupiah saja. Sebaiknya, modal minimal Rp 1 juta atau juga bisa lebih, saran Desi.

Setelah semua modal dagang voucher sudah terkumpul, Anda tinggal memasarkan voucher itu. Berapa pelanggan yang datang tentu sangat bergantung dari lokasi kios Anda, serta seberapa bagus Anda melayani pembeli.

Ada baiknya Anda melakukan promosi harga terlebih dahulu. Caranya, pajang saja papan harga di depan kios. Sipa tahu, ada pembeli yang kepincut dengan tawaran harga yang Anda buat.

Anda harus memburu banyak pembeli agar keuntungan Anda gendut. Pasalnya, margin keuntungannya cuma 2% - 3% saja.


Salam sukses,


Junaedi
http://www.maximart.co.cc
http://www.maxiphone.co.cc


Disadur dari Harian Kontan Edisi Khisus Semptember - Oktober 2008



Ini Dia Usaha Sejuta Umat

Ada satu jenjang lagi yang boleh dibilang sudah mewabah ke mana-mana. Bahkan, kalau mau disebut, hingga ke kamar pun bisa. Yakni, menjadi penjual voucher fisik dan elektrik ke para konsumen langsung alias and user.

Siapa pun bisa melakukan usaha ini. Para manajer, karyawan, ibu rumah tangga, mahasiswa, siswa sekolah, hingga para penganggur sekalipun dapat menjadi pengusaha pulsa isi ulang.

Pertanyaannya adalah, apakah masih ada celah? Tentu saja masih. Asalkan, sekali lagi, Andamesti sunggug-sungguh dalam menjalankan usaha yang siapa tau membuat kocek Anda semakin tebal.

Lihat saja pengalaman Desi Marwati. Untuk melengkapi toko kelontongnya, ia tidak sungkan-sungkan melengkapi barang dagangannya dengan menjual voucher fisik dan elektrik. Usaha yang sudah ia lakoni sejak tahun 2005 ini pun semakin berkembang. Saat ini, Desi kerap menghabiskan uang hingga Rp 20 juta setiap bulannya untuk membeli pulsa.

Padahal, tiga tahun silam, Desi cuma menaruh modal untuk beli pulsa tidak lebih dari Rp 5 juta saja. Desi memang beruntung. Modal yang lainnya tidak perlu ia keluarkan. Misalnya, membuat kios khusus. Pasalnya, ia tinggal menaruh berbagai voucher fisik disalah satu sisi toko kelontongnya.

Calon peritel voucher juga bisa mengekor desi. Bahkan, cara tersebut merupakan cara yang paling ampuh untuk menghemat dana. Anda bisa berjualan voucher di halaman rumah atau garasi Anda. Yang penting, calon lahan bisnis Anda cukup luas menampung etalase untuk memajang produk. Ukuran etalse standar adalah 1,5 m2. Etalase ini bisa dibeli di toko atau bisa pula Anda buat.

Kemudian, tinggal mencari para agen atau tempat grosir membeli pulsa, entah itu fisik atau elektrik. Anda bisa langsung menyambangi para agen dan grosir yang dapat dipercaya dan meberikan pelayanan yang prima. Agen dan grosir pemasok pulsa fisik dan elektrik tersebar luar si mall-mall, ITC yang mengkhususkan diri sebagai pusat elektronik seperti ITC Roxi, ITC Cempaka Mas, PGC Cililitan dll.

Para agen dan grosir pemasok pulsa meminta sejumlah deposit yang harus dibayar pemilik kios. Besar setoran deposit untuk pulsa elektrik besarnya beragam tergantung dari kebijakan masing-masing agen atau grosir. Ada yang mencantumkan angka ratusan ribu rupiah plus uang pendaftaran hingga jutaan rupiah.

Tapi, Desi menyarankan agar Anda kudu keluar dana tidak cuma angka ratusan ribu rupiah saja. Sebaiknya, modal minimal Rp 1 juta atau juga bisa lebih, saran Desi.

Setelah semua modal dagang voucher sudah terkumpul, Anda tinggal memasarkan voucher itu. Berapa pelanggan yang datang tentu sangat bergantung dari lokasi kios Anda, serta seberapa bagus Anda melayani pembeli.

Ada baiknya Anda melakukan promosi harga terlebih dahulu. Caranya, pajang saja papan harga di depan kios. Sipa tahu, ada pembeli yang kepincut dengan tawaran harga yang Anda buat.

Anda harus memburu banyak pembeli agar keuntungan Anda gendut. Pasalnya, margin keuntungannya cuma 2% - 3% saja.


Salam sukses,


Junaedi
http://www.maximart.co.cc
http://www.maxiphone.co.cc


Disadur dari Harian Kontan Edisi Khisus Semptember - Oktober 2008



Thursday, 11 September 2008

Membuang 1 juta, Mendapat 37 milyar.

Tak salah bila PT Diana, Sidoarjo, diminta untuk melayani catering bagi petugas dan pengungsi akibat mud flow Lapindo senilai 37 Milyar pada tahun 2007 lalu. Namun, di luar pertimbangan bisnis, ada invisible hand yang menentukan deal mereka. Itulah takdir Ilahi.

Tanpa bantuan Allah SWT, mustahil kami mendapatka rejeki yang sangat besar sehingga mengubah drastis usaha kami ini, ucapan Imam Syafei, pemilik PT Diana. Inilah berkah dari sedekah, lanjut suami dari diana dan bapak dari Kurnia Adi Prskoso (3).

Iman Syafei bertutur, pada 2006, ia dan istri tinggal memiliki uang 1 juta. Saat itu, usaha catering "Diana" milik mereka baru merangkak. Di waktu yang sama, rumah petak kontrakan yang mereka tempati sudah habis masa sewanya.

Demi membesarkan usaha, mereka berniat mencari rumah kontrakan yang sewanya sekitar Rp 700 ribu pertahun. Berhari-hari, beberapa rumah yang diincar belum juga cocok harganya.

Di tengah kelelahan dan kekhawatiran, suatu hari selepas ashar Imam Syafei mendengarkan taushiyah Ustadz Yusuf Mansur. Lima menit terakhir taushiyah yang sempat disimaknya itu, memantapkan keyakinannya akan hikmah sedekah.

Mari bu, kita ikhlaskan dan mantapkan untuk "membuang" uang sejuta ini sebagai sedekah. Insya Allah akan ada pengganti yang lebih baik, Iman Syafei membujuk istrinya untuk menyedekahkan semua uang milik mereka yang tersisa.

Alhamdulullah, disertai ketekunan ibadah dan do'a, harapan suami-istri itu terkabul. Mereka mendapat order catering partai besar yang memberi keuntungan Rp 5 juta. Uang tersebut, selain untuk membayar kontrakan rumah Rp 600.000,- setahun dan belanja kebutuhan hidup, sebagian keuntungan itu disisihkan untuks sedekah.

Sejak saat itu, rejeki kami terus mengalir. Kami yakin ini berkat do'a santri-santri penghafal Qur'an yang turut kami santuni, kata Imam Syafei yang kini tinggal di Wonocolo, Surabaya.

Sampailah kemudian, catering "Diana" mendapat kontrak sebagai suplier untuk pengungsi Lapindo dengan nilai yang luar biasa besar untuk ukuran usaha kecil.

Rejeki itu memacu cepat perkembangan usaha Imam Syafei dan Istri. Kini, dalam tempo setahun, perusahaan mereka telah menjadi tiga yaitu PT Diana (catering), PT Kurnia (persewaan alat catering), dan PT Prakoso (suplier produksi catering). Usaha catering mereka bahkan ditabalkan sebagai yang terbesar kedua di Jawa Timur. Sebanyak 120 karyawan dan keluarga bernaung di tiga perusahaan tersebut.

Salah satu bentuk syukur Iman Syafei, tahun lalu ia menghajikan 13 anggota keluarga besarnya, termasuk si kecil Kurnia Adi Prakoso. Sedekah pun jalan terus, karena inilah kunci kesuksesan mereka. (aya hasna)

Disadur dari; PPPA Daarul Qur'an Yayasan Daarul Qur'an Nusantara www.wisatahati.com / www.pppa.or.id