Tuesday, 2 October 2007

Peluang Untung Terbuka Luas...

Peluang Untung.

Lebih untung mana antara pelaku usaha eceran, grosir, delaer? Begitu juga sebaliknya menjual produk HP saja, Voucher, atau aksesoris atau gabungannya? hal ini relatif, untung mana antara pelaku usaha pedagang eceran, atau grosir? Semua punya peluang untung dan rugi, semakin besar usaha berarti untungnya semakin besar, namun bila rugi ya, ruginya pun besar juga. Demikian sebaliknya jika kita main di eceran untungnya juga kecil, namun bila rugi, maka kerugiannya juga kecil.

Umumnya pedagang punya spesialisasi. Contohnya bial di Mall atau ITC maka pedagang akan menjual HP baru, ada HP "second", atau khusus berjualan "voucher" grosir, khusus berjualan aksesoris dan "spare part", atau khusus teknik sevis ponsel. Bila di pinggir jlan atau ruko, maka pedagang umumnya berjualan "voucher" dan ada yang digabung dengan aksesoris tertentu sebagai pelengkap dengan HP baru atau "second" juga sebagai pelengkap. Agar terhindar dari rugi maka saat pembelian produk "voucher" dan aksesoris haruslah disesuaikan dengan pangsa pasar dan minat beli masyarakat yang ada disekitar konter/kios kita.

Setiap daerah, kota, Mall, ITC, dan area pasar, memiliki tingkat yang berbeda dalam pengambilan margin keuntungan untuk masing-masing produk dan jasa, juga berbeda pada masing-masing tingkat pedagang eceran, grosir atau dealer. Namun secara sederhana pada tingkat "reseller" nargin "voucher" antara Rp 500,- hingga Rp 2.500,- sedangkan untuk grosir sekitar Rp 250,- namun letak keuntungannya adalah pada kuantitas dan kecepatan perputaran, demikian halnya delaer. Sedangkan untk jualan HP baru, untuk margin bisa Rp 25.000,- hingga Rp 40.000,- dan juan HP "second" bisa Rp 25.000,- hingga Rp 200.000,-.

Peluang di Daerah.

Untuk daerah yang masih baru atau akan dibangun BTS oleh operator, maka peluang masih terbentang luas. Maka mulailah membuka konter voucher pulsa dan aksesorisnya, grosir voucher elektronik, sub-dealer atau delaer dari operator maupun vendor, membuka kios posel baru atau "second", serta para teknisi muda bisa membuka teknik servis ponsel. Para tenaga IT dapat menjadi teknopreneur dengan membuat konten-konten yang betmanfaat bagi masyarakat daerah dan Pemda-nya, yang diakses melalui SMS, MMS, dll. Ke depan usaha isi ulang pulsa jenis elektronik akan lebih tren. Gambarannya untuk peluang menjadi distributor pulsa elektronik perlu modal Rp 150 juta bahkan kurang, akan memperoleh sever sever dan "software"-nya serta pulsa "auto reffil", satu kartu untuk semua operator, GSM & CDMA, bisa melakukan ribuan transaksi per hari, dapat melayani "reseller" seluruh Indonesia dan posisinya sebagai grosir.

Kendala.

Kendalanya pada bisnis ini adalah persaingan yang semakin rapat dan ketat, sehingga yang dulunya menjual "voucher" untung Rp 2.500,- kini harus rela hanya untung Rp 1.000,- atau bahkan Rp 500,- namun dari segi volume tetap harus ditingkatkan atau dari tambahnya varian usha sampingan seperti aplikasi, digital photo printing, teknik servis HP dan lainnya yang sesuai dengan kondisi setempat. Buatlah "One Stop Shopping" kebutuhan ponsel keluarga, misalnya. Kendala lain adalah dimungkinkan dari pertumbuhan teknologi yang semakin canggih atau peraturan baru yang diberlakukan oleh pemerintah/operator tentang pascabayar/prabayar serta "voucher" fisik ke "voucher" elektronik, berarti pelaku usaha harus mengantisipasinya.

Prinsipnya untuk berwirausaha yang baik dan untung kembali apapun usaha kita, tentu kita perhitungkan harus "untung"., namun terkadang ada faktor yang mempengaruhi yaitu fluktuasi harga, akibat "suplay and demand". Yang penting dalam berusaha bila produknya sama, maka kualitas pelayanan SDM kepada konsumen yang harus benar-benar dimaksimalkan.

Sumber: Tabloid "PELUANG USAHA" No 04 / THN 2 / 06 / 19 November 2006
Sudanang Dananjaya, Pengamat Bisnis Seliler dari LPTTI
email : sudanangdananjaya@yahoo.com

Peluang Untung Terbuka Luas...

Peluang Untung.

Lebih untung mana antara pelaku usaha eceran, grosir, delaer? Begitu juga sebaliknya menjual produk HP saja, Voucher, atau aksesoris atau gabungannya? hal ini relatif, untung mana antara pelaku usaha pedagang eceran, atau grosir? Semua punya peluang untung dan rugi, semakin besar usaha berarti untungnya semakin besar, namun bila rugi ya, ruginya pun besar juga. Demikian sebaliknya jika kita main di eceran untungnya juga kecil, namun bila rugi, maka kerugiannya juga kecil.

Umumnya pedagang punya spesialisasi. Contohnya bial di Mall atau ITC maka pedagang akan menjual HP baru, ada HP "second", atau khusus berjualan "voucher" grosir, khusus berjualan aksesoris dan "spare part", atau khusus teknik sevis ponsel. Bila di pinggir jlan atau ruko, maka pedagang umumnya berjualan "voucher" dan ada yang digabung dengan aksesoris tertentu sebagai pelengkap dengan HP baru atau "second" juga sebagai pelengkap. Agar terhindar dari rugi maka saat pembelian produk "voucher" dan aksesoris haruslah disesuaikan dengan pangsa pasar dan minat beli masyarakat yang ada disekitar konter/kios kita.

Setiap daerah, kota, Mall, ITC, dan area pasar, memiliki tingkat yang berbeda dalam pengambilan margin keuntungan untuk masing-masing produk dan jasa, juga berbeda pada masing-masing tingkat pedagang eceran, grosir atau dealer. Namun secara sederhana pada tingkat "reseller" nargin "voucher" antara Rp 500,- hingga Rp 2.500,- sedangkan untuk grosir sekitar Rp 250,- namun letak keuntungannya adalah pada kuantitas dan kecepatan perputaran, demikian halnya delaer. Sedangkan untk jualan HP baru, untuk margin bisa Rp 25.000,- hingga Rp 40.000,- dan juan HP "second" bisa Rp 25.000,- hingga Rp 200.000,-.

Peluang di Daerah.

Untuk daerah yang masih baru atau akan dibangun BTS oleh operator, maka peluang masih terbentang luas. Maka mulailah membuka konter voucher pulsa dan aksesorisnya, grosir voucher elektronik, sub-dealer atau delaer dari operator maupun vendor, membuka kios posel baru atau "second", serta para teknisi muda bisa membuka teknik servis ponsel. Para tenaga IT dapat menjadi teknopreneur dengan membuat konten-konten yang betmanfaat bagi masyarakat daerah dan Pemda-nya, yang diakses melalui SMS, MMS, dll. Ke depan usaha isi ulang pulsa jenis elektronik akan lebih tren. Gambarannya untuk peluang menjadi distributor pulsa elektronik perlu modal Rp 150 juta bahkan kurang, akan memperoleh sever sever dan "software"-nya serta pulsa "auto reffil", satu kartu untuk semua operator, GSM & CDMA, bisa melakukan ribuan transaksi per hari, dapat melayani "reseller" seluruh Indonesia dan posisinya sebagai grosir.

Kendala.

Kendalanya pada bisnis ini adalah persaingan yang semakin rapat dan ketat, sehingga yang dulunya menjual "voucher" untung Rp 2.500,- kini harus rela hanya untung Rp 1.000,- atau bahkan Rp 500,- namun dari segi volume tetap harus ditingkatkan atau dari tambahnya varian usha sampingan seperti aplikasi, digital photo printing, teknik servis HP dan lainnya yang sesuai dengan kondisi setempat. Buatlah "One Stop Shopping" kebutuhan ponsel keluarga, misalnya. Kendala lain adalah dimungkinkan dari pertumbuhan teknologi yang semakin canggih atau peraturan baru yang diberlakukan oleh pemerintah/operator tentang pascabayar/prabayar serta "voucher" fisik ke "voucher" elektronik, berarti pelaku usaha harus mengantisipasinya.

Prinsipnya untuk berwirausaha yang baik dan untung kembali apapun usaha kita, tentu kita perhitungkan harus "untung"., namun terkadang ada faktor yang mempengaruhi yaitu fluktuasi harga, akibat "suplay and demand". Yang penting dalam berusaha bila produknya sama, maka kualitas pelayanan SDM kepada konsumen yang harus benar-benar dimaksimalkan.

Sumber: Tabloid "PELUANG USAHA" No 04 / THN 2 / 06 / 19 November 2006
Sudanang Dananjaya, Pengamat Bisnis Seliler dari LPTTI
email : sudanangdananjaya@yahoo.com

Peluang Untung Terbuka Luas...

Peluang Untung.

Lebih untung mana antara pelaku usaha eceran, grosir, delaer? Begitu juga sebaliknya menjual produk HP saja, Voucher, atau aksesoris atau gabungannya? hal ini relatif, untung mana antara pelaku usaha pedagang eceran, atau grosir? Semua punya peluang untung dan rugi, semakin besar usaha berarti untungnya semakin besar, namun bila rugi ya, ruginya pun besar juga. Demikian sebaliknya jika kita main di eceran untungnya juga kecil, namun bila rugi, maka kerugiannya juga kecil.

Umumnya pedagang punya spesialisasi. Contohnya bial di Mall atau ITC maka pedagang akan menjual HP baru, ada HP "second", atau khusus berjualan "voucher" grosir, khusus berjualan aksesoris dan "spare part", atau khusus teknik sevis ponsel. Bila di pinggir jlan atau ruko, maka pedagang umumnya berjualan "voucher" dan ada yang digabung dengan aksesoris tertentu sebagai pelengkap dengan HP baru atau "second" juga sebagai pelengkap. Agar terhindar dari rugi maka saat pembelian produk "voucher" dan aksesoris haruslah disesuaikan dengan pangsa pasar dan minat beli masyarakat yang ada disekitar konter/kios kita.

Setiap daerah, kota, Mall, ITC, dan area pasar, memiliki tingkat yang berbeda dalam pengambilan margin keuntungan untuk masing-masing produk dan jasa, juga berbeda pada masing-masing tingkat pedagang eceran, grosir atau dealer. Namun secara sederhana pada tingkat "reseller" nargin "voucher" antara Rp 500,- hingga Rp 2.500,- sedangkan untuk grosir sekitar Rp 250,- namun letak keuntungannya adalah pada kuantitas dan kecepatan perputaran, demikian halnya delaer. Sedangkan untk jualan HP baru, untuk margin bisa Rp 25.000,- hingga Rp 40.000,- dan juan HP "second" bisa Rp 25.000,- hingga Rp 200.000,-.

Peluang di Daerah.

Untuk daerah yang masih baru atau akan dibangun BTS oleh operator, maka peluang masih terbentang luas. Maka mulailah membuka konter voucher pulsa dan aksesorisnya, grosir voucher elektronik, sub-dealer atau delaer dari operator maupun vendor, membuka kios posel baru atau "second", serta para teknisi muda bisa membuka teknik servis ponsel. Para tenaga IT dapat menjadi teknopreneur dengan membuat konten-konten yang betmanfaat bagi masyarakat daerah dan Pemda-nya, yang diakses melalui SMS, MMS, dll. Ke depan usaha isi ulang pulsa jenis elektronik akan lebih tren. Gambarannya untuk peluang menjadi distributor pulsa elektronik perlu modal Rp 150 juta bahkan kurang, akan memperoleh sever sever dan "software"-nya serta pulsa "auto reffil", satu kartu untuk semua operator, GSM & CDMA, bisa melakukan ribuan transaksi per hari, dapat melayani "reseller" seluruh Indonesia dan posisinya sebagai grosir.

Kendala.

Kendalanya pada bisnis ini adalah persaingan yang semakin rapat dan ketat, sehingga yang dulunya menjual "voucher" untung Rp 2.500,- kini harus rela hanya untung Rp 1.000,- atau bahkan Rp 500,- namun dari segi volume tetap harus ditingkatkan atau dari tambahnya varian usha sampingan seperti aplikasi, digital photo printing, teknik servis HP dan lainnya yang sesuai dengan kondisi setempat. Buatlah "One Stop Shopping" kebutuhan ponsel keluarga, misalnya. Kendala lain adalah dimungkinkan dari pertumbuhan teknologi yang semakin canggih atau peraturan baru yang diberlakukan oleh pemerintah/operator tentang pascabayar/prabayar serta "voucher" fisik ke "voucher" elektronik, berarti pelaku usaha harus mengantisipasinya.

Prinsipnya untuk berwirausaha yang baik dan untung kembali apapun usaha kita, tentu kita perhitungkan harus "untung"., namun terkadang ada faktor yang mempengaruhi yaitu fluktuasi harga, akibat "suplay and demand". Yang penting dalam berusaha bila produknya sama, maka kualitas pelayanan SDM kepada konsumen yang harus benar-benar dimaksimalkan.

Sumber: Tabloid "PELUANG USAHA" No 04 / THN 2 / 06 / 19 November 2006
Sudanang Dananjaya, Pengamat Bisnis Seliler dari LPTTI
email : sudanangdananjaya@yahoo.com

Peluang Masih Terbuka Lebar...

Peluang Bisnis.

Bisnis seluler di perkotaan sudah semakin ketat dan menjamur, namun untuk pinggiran kota dan daerah peluangnya masih terbuka lebar dengan adanya layanan bebas roaming dan dibukanya BTS-BTS baru, terutama sekarang jumlah pelanggan jasa seluler sudah mencapai 50-60 juta orang dari 220 juta jumalah penduduk Indonesia atau baru sekita 20% pemakai seluler. Sedangkan pertumbuhan pelanggan pertahun sekitar 20% adalah cukup pesat. Disini terlihat prospeknya sangan menjanjikan, selain itu komunikasi sudah menjadi kebutuhan pokok, sehingga setiap orang butuh HP dan setiap HP butuh pulsa, (sembako + 1), maka koneter seluler dibutuhkan. Karena kemana orang akan membeli pulsa untuk ponselnya (95% adalah pelanggan prabayar) tentunya harus memebeli di konter voucher. Di samping itu pertumbuhan konsumen menuju "Satu orang satu ponsel" dapat terwujud, seperti di Singapura lebih banyak ponselnya dari pada penduduknya, atau pelanggan di Indonesia lebih banyak darada penduduk di Negara Belanda.

Sebagai pemula yang ingin merintis usaha di bidang telekomunikasi selular, Kyai Aa Gym berpesan; "Mulai dari yang kecil, Mulai darai diri sendiri dan Mulai saat ini". Berpedoman pada motto tersebut, biarlah kita mulai dari yang kecil dan rasakan usaha itu tumbuh menjadi besar, seirama dengan penghayatan pengetahuan serta pengalaman yang kita peroleh dari pertumbuhan usaha yang kita jalani. Dalam salah satu kisah sukses usaha seluler, ada seorang pengusaha di Bekasi, Jawa Barat yang ia tidur di kiosnya di awal-awal usahanya, mulai dengan hanya sebuah etalase. Ia ingin mengetahu dan mengenal tren konsumen setiap saatnya, sehingga dia punya "rekord" harian. Jam berapa dan hari apa ramai serta jam dan hari apa saja counetr sepi. Hingga kini tumbuh menjadi sub-delaer, dalam jangka waktu 1,5 tahu.

Besarnya Investasi Usaha.

Besar kecilnya investasi tergantung berapa banyak uang yang dimiliki, sehingga setiap pengusaha bisa saja memulai sebagai apa saja, reseller, grosir tau delaer. Pertama yang paling mudah dengan uang modal deposit Rp 200.000,- bahkan kurang sudah bisa mulai menjalankan pulsa elektronik, tanpa harus punya konter atau kios. Anak sekolah menjajakan kepada temannya atau buruh pabrik menjajakan kepada rekan kerjanya. Bermodal sebuah ponsel dengan sebuah chip elektronik untuk semua jaringan operator. Kedua, dengan modal Rp 3.000.000,- hingga Rp 4.500.000,- sudah bisa buka konter voucher dan aksesoris di depan mini market atau toko, dengan BEP 4,5 bulan atau kurang, bila lokasi sungguh strategis. Ketiga, untuk tingkat grosir diperlukan modal sebesar Rp 60.000.000,- hingga Rp 500.000.000,- dengan omsetRp 40.000.000,- hingga Rp 200.000.000,- per hari dan harus memiliki "outlet" dan pelanggan para "reseller". Umumnya grosir membuka usaha di Mall, ITC, di lantai khusus posel. Keempat, adalah para delaer atau distributor yang ditunjuk oleh para operator dengan modal Rp 5 miliar perminggu yang umumnya adalah para pemain lama dari pengusaha eceran dan mempunyai banyak kios, tersebar di daerah-daerah.

Faktor yang Mempegaruhi Usaha.

Ada tiga faktor yang mempengaruhi. Pertama, adalah mental entrepreneur/teknopreneur, otak kanan, intuisi bisnis, kecerdasan emosional-spiritual, keteguhan dan keuletan membuka/memulai usaha. Kedua, membangun sistem, dari peraturan, SOP, SDM, administrasi, keuangan, pelayanan, pemasaran, penjualan dan lain-lain sistem. Perhatian pada sintem ini yang cukup lama, khususnya SDM-nya harus dibentuk, bila ingin "survive". Ingin lebih cepat lagi, maka cari sistem yang sudah ada, seperti malalui "business oportunity" (BO) atau waralaba (franchise). Bila sistem sudah kuat maka, bisa membuka cabang baru dengan men-copy sistem yang sudah ada. Ketiga, adalah usaha harus bisa didelegasikan dan terkontrol malalui sitem yang dibangun tersebut, sehingga bisa membuka uasaha baru. Itu namanya wirausaha, bukan hanya sebagai pedagang.

Teknik Pemasaran.

Uniknya usaha dibidang seluler ini, untuk promosi produk sangat didukung oleh operator dan vendor, melalui iklan di media cetak, TV, Radio, spanduk dan umbul-umbul di jalanan, poster dibagiakan di kios "free", serta para operator dan vendor berlomba-lomba menyelenggarakan "event-event" khusus untuk memasarkan produknya. Para operator biasanya memanjakan "reseller" dengan melakukan "branded" produk mereka seperti mendesain dan mengecat kios, menjadi merah, kuning, hijau atau lainnya, sesuai warna "branded" perusahaan operator tersebut. Namun bagi kios kita sendiri, tentunya perlu kita sendiri, tentunya perlu perlu kita promosi keliling. Denagn jangkauan radius 1 km, untuk menyatakan keberadaan kios kita menlalui penyebaran brosur "door to door", yang memuat nama kios, alamat & nomor telepon kios, produk yang dijual, serta layanan jasa yang diberikan, dan yang terpnting harus memuat "special offer" (contoh: harga murah, ada diskon, dapat hadiah untuk pembelian senilai tertentu untuk masa minimal 1 bulan, stok tersedia dan diantar).

Teknik pemasaran dewasa ini adalah dengan harga bersaing, memiliki nilai tambah, seperti hadiah dan pelayanan SDM yang profesional. Untuk area kios selulernya sudah sangat padat dan menjamur, perlu dibangun komunitas pelanggan agar pelanggan menjadi loyal agar tidak lari ke"tetangga". Selalu bertanya: Apa kelebihan kios tetangga yang kita tidak punya? Ciptakan kedekatan pribadi dengan konsumen dan ciptakan "member get member" atau pemasaran dari "mulut ke mulut" adalah lebih jitu. Kita harus membangun segmen yang "customize" atau bersifat pribadi, seperti kumpulan pernak-pernik untuk ABG, para wanita executive muda, atau bagi bapak-bapak yang tampil "trendy/dandy/macho".

Bersambung...

Peluang Masih Terbuka Lebar...

Peluang Bisnis.

Bisnis seluler di perkotaan sudah semakin ketat dan menjamur, namun untuk pinggiran kota dan daerah peluangnya masih terbuka lebar dengan adanya layanan bebas roaming dan dibukanya BTS-BTS baru, terutama sekarang jumlah pelanggan jasa seluler sudah mencapai 50-60 juta orang dari 220 juta jumalah penduduk Indonesia atau baru sekita 20% pemakai seluler. Sedangkan pertumbuhan pelanggan pertahun sekitar 20% adalah cukup pesat. Disini terlihat prospeknya sangan menjanjikan, selain itu komunikasi sudah menjadi kebutuhan pokok, sehingga setiap orang butuh HP dan setiap HP butuh pulsa, (sembako + 1), maka koneter seluler dibutuhkan. Karena kemana orang akan membeli pulsa untuk ponselnya (95% adalah pelanggan prabayar) tentunya harus memebeli di konter voucher. Di samping itu pertumbuhan konsumen menuju "Satu orang satu ponsel" dapat terwujud, seperti di Singapura lebih banyak ponselnya dari pada penduduknya, atau pelanggan di Indonesia lebih banyak darada penduduk di Negara Belanda.

Sebagai pemula yang ingin merintis usaha di bidang telekomunikasi selular, Kyai Aa Gym berpesan; "Mulai dari yang kecil, Mulai darai diri sendiri dan Mulai saat ini". Berpedoman pada motto tersebut, biarlah kita mulai dari yang kecil dan rasakan usaha itu tumbuh menjadi besar, seirama dengan penghayatan pengetahuan serta pengalaman yang kita peroleh dari pertumbuhan usaha yang kita jalani. Dalam salah satu kisah sukses usaha seluler, ada seorang pengusaha di Bekasi, Jawa Barat yang ia tidur di kiosnya di awal-awal usahanya, mulai dengan hanya sebuah etalase. Ia ingin mengetahu dan mengenal tren konsumen setiap saatnya, sehingga dia punya "rekord" harian. Jam berapa dan hari apa ramai serta jam dan hari apa saja counetr sepi. Hingga kini tumbuh menjadi sub-delaer, dalam jangka waktu 1,5 tahu.

Besarnya Investasi Usaha.

Besar kecilnya investasi tergantung berapa banyak uang yang dimiliki, sehingga setiap pengusaha bisa saja memulai sebagai apa saja, reseller, grosir tau delaer. Pertama yang paling mudah dengan uang modal deposit Rp 200.000,- bahkan kurang sudah bisa mulai menjalankan pulsa elektronik, tanpa harus punya konter atau kios. Anak sekolah menjajakan kepada temannya atau buruh pabrik menjajakan kepada rekan kerjanya. Bermodal sebuah ponsel dengan sebuah chip elektronik untuk semua jaringan operator. Kedua, dengan modal Rp 3.000.000,- hingga Rp 4.500.000,- sudah bisa buka konter voucher dan aksesoris di depan mini market atau toko, dengan BEP 4,5 bulan atau kurang, bila lokasi sungguh strategis. Ketiga, untuk tingkat grosir diperlukan modal sebesar Rp 60.000.000,- hingga Rp 500.000.000,- dengan omsetRp 40.000.000,- hingga Rp 200.000.000,- per hari dan harus memiliki "outlet" dan pelanggan para "reseller". Umumnya grosir membuka usaha di Mall, ITC, di lantai khusus posel. Keempat, adalah para delaer atau distributor yang ditunjuk oleh para operator dengan modal Rp 5 miliar perminggu yang umumnya adalah para pemain lama dari pengusaha eceran dan mempunyai banyak kios, tersebar di daerah-daerah.

Faktor yang Mempegaruhi Usaha.

Ada tiga faktor yang mempengaruhi. Pertama, adalah mental entrepreneur/teknopreneur, otak kanan, intuisi bisnis, kecerdasan emosional-spiritual, keteguhan dan keuletan membuka/memulai usaha. Kedua, membangun sistem, dari peraturan, SOP, SDM, administrasi, keuangan, pelayanan, pemasaran, penjualan dan lain-lain sistem. Perhatian pada sintem ini yang cukup lama, khususnya SDM-nya harus dibentuk, bila ingin "survive". Ingin lebih cepat lagi, maka cari sistem yang sudah ada, seperti malalui "business oportunity" (BO) atau waralaba (franchise). Bila sistem sudah kuat maka, bisa membuka cabang baru dengan men-copy sistem yang sudah ada. Ketiga, adalah usaha harus bisa didelegasikan dan terkontrol malalui sitem yang dibangun tersebut, sehingga bisa membuka uasaha baru. Itu namanya wirausaha, bukan hanya sebagai pedagang.

Teknik Pemasaran.

Uniknya usaha dibidang seluler ini, untuk promosi produk sangat didukung oleh operator dan vendor, melalui iklan di media cetak, TV, Radio, spanduk dan umbul-umbul di jalanan, poster dibagiakan di kios "free", serta para operator dan vendor berlomba-lomba menyelenggarakan "event-event" khusus untuk memasarkan produknya. Para operator biasanya memanjakan "reseller" dengan melakukan "branded" produk mereka seperti mendesain dan mengecat kios, menjadi merah, kuning, hijau atau lainnya, sesuai warna "branded" perusahaan operator tersebut. Namun bagi kios kita sendiri, tentunya perlu kita sendiri, tentunya perlu perlu kita promosi keliling. Denagn jangkauan radius 1 km, untuk menyatakan keberadaan kios kita menlalui penyebaran brosur "door to door", yang memuat nama kios, alamat & nomor telepon kios, produk yang dijual, serta layanan jasa yang diberikan, dan yang terpnting harus memuat "special offer" (contoh: harga murah, ada diskon, dapat hadiah untuk pembelian senilai tertentu untuk masa minimal 1 bulan, stok tersedia dan diantar).

Teknik pemasaran dewasa ini adalah dengan harga bersaing, memiliki nilai tambah, seperti hadiah dan pelayanan SDM yang profesional. Untuk area kios selulernya sudah sangat padat dan menjamur, perlu dibangun komunitas pelanggan agar pelanggan menjadi loyal agar tidak lari ke"tetangga". Selalu bertanya: Apa kelebihan kios tetangga yang kita tidak punya? Ciptakan kedekatan pribadi dengan konsumen dan ciptakan "member get member" atau pemasaran dari "mulut ke mulut" adalah lebih jitu. Kita harus membangun segmen yang "customize" atau bersifat pribadi, seperti kumpulan pernak-pernik untuk ABG, para wanita executive muda, atau bagi bapak-bapak yang tampil "trendy/dandy/macho".

Bersambung...

Peluang Masih Terbuka Lebar...

Peluang Bisnis.

Bisnis seluler di perkotaan sudah semakin ketat dan menjamur, namun untuk pinggiran kota dan daerah peluangnya masih terbuka lebar dengan adanya layanan bebas roaming dan dibukanya BTS-BTS baru, terutama sekarang jumlah pelanggan jasa seluler sudah mencapai 50-60 juta orang dari 220 juta jumalah penduduk Indonesia atau baru sekita 20% pemakai seluler. Sedangkan pertumbuhan pelanggan pertahun sekitar 20% adalah cukup pesat. Disini terlihat prospeknya sangan menjanjikan, selain itu komunikasi sudah menjadi kebutuhan pokok, sehingga setiap orang butuh HP dan setiap HP butuh pulsa, (sembako + 1), maka koneter seluler dibutuhkan. Karena kemana orang akan membeli pulsa untuk ponselnya (95% adalah pelanggan prabayar) tentunya harus memebeli di konter voucher. Di samping itu pertumbuhan konsumen menuju "Satu orang satu ponsel" dapat terwujud, seperti di Singapura lebih banyak ponselnya dari pada penduduknya, atau pelanggan di Indonesia lebih banyak darada penduduk di Negara Belanda.

Sebagai pemula yang ingin merintis usaha di bidang telekomunikasi selular, Kyai Aa Gym berpesan; "Mulai dari yang kecil, Mulai darai diri sendiri dan Mulai saat ini". Berpedoman pada motto tersebut, biarlah kita mulai dari yang kecil dan rasakan usaha itu tumbuh menjadi besar, seirama dengan penghayatan pengetahuan serta pengalaman yang kita peroleh dari pertumbuhan usaha yang kita jalani. Dalam salah satu kisah sukses usaha seluler, ada seorang pengusaha di Bekasi, Jawa Barat yang ia tidur di kiosnya di awal-awal usahanya, mulai dengan hanya sebuah etalase. Ia ingin mengetahu dan mengenal tren konsumen setiap saatnya, sehingga dia punya "rekord" harian. Jam berapa dan hari apa ramai serta jam dan hari apa saja counetr sepi. Hingga kini tumbuh menjadi sub-delaer, dalam jangka waktu 1,5 tahu.

Besarnya Investasi Usaha.

Besar kecilnya investasi tergantung berapa banyak uang yang dimiliki, sehingga setiap pengusaha bisa saja memulai sebagai apa saja, reseller, grosir tau delaer. Pertama yang paling mudah dengan uang modal deposit Rp 200.000,- bahkan kurang sudah bisa mulai menjalankan pulsa elektronik, tanpa harus punya konter atau kios. Anak sekolah menjajakan kepada temannya atau buruh pabrik menjajakan kepada rekan kerjanya. Bermodal sebuah ponsel dengan sebuah chip elektronik untuk semua jaringan operator. Kedua, dengan modal Rp 3.000.000,- hingga Rp 4.500.000,- sudah bisa buka konter voucher dan aksesoris di depan mini market atau toko, dengan BEP 4,5 bulan atau kurang, bila lokasi sungguh strategis. Ketiga, untuk tingkat grosir diperlukan modal sebesar Rp 60.000.000,- hingga Rp 500.000.000,- dengan omsetRp 40.000.000,- hingga Rp 200.000.000,- per hari dan harus memiliki "outlet" dan pelanggan para "reseller". Umumnya grosir membuka usaha di Mall, ITC, di lantai khusus posel. Keempat, adalah para delaer atau distributor yang ditunjuk oleh para operator dengan modal Rp 5 miliar perminggu yang umumnya adalah para pemain lama dari pengusaha eceran dan mempunyai banyak kios, tersebar di daerah-daerah.

Faktor yang Mempegaruhi Usaha.

Ada tiga faktor yang mempengaruhi. Pertama, adalah mental entrepreneur/teknopreneur, otak kanan, intuisi bisnis, kecerdasan emosional-spiritual, keteguhan dan keuletan membuka/memulai usaha. Kedua, membangun sistem, dari peraturan, SOP, SDM, administrasi, keuangan, pelayanan, pemasaran, penjualan dan lain-lain sistem. Perhatian pada sintem ini yang cukup lama, khususnya SDM-nya harus dibentuk, bila ingin "survive". Ingin lebih cepat lagi, maka cari sistem yang sudah ada, seperti malalui "business oportunity" (BO) atau waralaba (franchise). Bila sistem sudah kuat maka, bisa membuka cabang baru dengan men-copy sistem yang sudah ada. Ketiga, adalah usaha harus bisa didelegasikan dan terkontrol malalui sitem yang dibangun tersebut, sehingga bisa membuka uasaha baru. Itu namanya wirausaha, bukan hanya sebagai pedagang.

Teknik Pemasaran.

Uniknya usaha dibidang seluler ini, untuk promosi produk sangat didukung oleh operator dan vendor, melalui iklan di media cetak, TV, Radio, spanduk dan umbul-umbul di jalanan, poster dibagiakan di kios "free", serta para operator dan vendor berlomba-lomba menyelenggarakan "event-event" khusus untuk memasarkan produknya. Para operator biasanya memanjakan "reseller" dengan melakukan "branded" produk mereka seperti mendesain dan mengecat kios, menjadi merah, kuning, hijau atau lainnya, sesuai warna "branded" perusahaan operator tersebut. Namun bagi kios kita sendiri, tentunya perlu kita sendiri, tentunya perlu perlu kita promosi keliling. Denagn jangkauan radius 1 km, untuk menyatakan keberadaan kios kita menlalui penyebaran brosur "door to door", yang memuat nama kios, alamat & nomor telepon kios, produk yang dijual, serta layanan jasa yang diberikan, dan yang terpnting harus memuat "special offer" (contoh: harga murah, ada diskon, dapat hadiah untuk pembelian senilai tertentu untuk masa minimal 1 bulan, stok tersedia dan diantar).

Teknik pemasaran dewasa ini adalah dengan harga bersaing, memiliki nilai tambah, seperti hadiah dan pelayanan SDM yang profesional. Untuk area kios selulernya sudah sangat padat dan menjamur, perlu dibangun komunitas pelanggan agar pelanggan menjadi loyal agar tidak lari ke"tetangga". Selalu bertanya: Apa kelebihan kios tetangga yang kita tidak punya? Ciptakan kedekatan pribadi dengan konsumen dan ciptakan "member get member" atau pemasaran dari "mulut ke mulut" adalah lebih jitu. Kita harus membangun segmen yang "customize" atau bersifat pribadi, seperti kumpulan pernak-pernik untuk ABG, para wanita executive muda, atau bagi bapak-bapak yang tampil "trendy/dandy/macho".

Bersambung...

Pinggir Kota dan Daerah Peluangnya Masih terbuka Lebar

Peluang Bisnis

Bisnis di perkotaan semakin ketat dan semakin menjamur, namun untuk pinngir kota dan daerah peluangnya masih terbuka lebar (adanya bebas roaming dan dibukanya daerah baru dengan dibangunnya BTS-BTS), terutama sekarang jumlah pelanggan jasa seluler sudah mencapai 50-60 juta orang dari 220 juta jumlah penduduk Indonesia atau baru sekitar 25% pemakai seluler. Sedangkan pertumbuhan pelanggan pertahun sekitar 20% adalah cukup pesat. Di sini terlihat prospeknya sangat menggiurkan, selain itu "Komunikasi sudah menjadi kebutuhan pokok, sehingga setiap orang butuh HP dan setiap HP butuh pulsa, (sembako+1), maka konter seluler dibutuhkan. Karena kemana orang akan membeli pulsa untuk poselnya (95% adalah pelanggan prabayar) tentunya harus membeli di konter voucher. Di samping itu pertumbuhan konsumen menuju "Satu Orang, Satu Posel" dapat terwujud, seperti di Singapura lebih banyak poselnya daripada penduduknya, atau pelanggan seluler di Indonesia lebih banyak daripada penduduk di Negara Belanda.

Sebagai pemula yang ingin merintis usaha di bidang telekomunikasi seluler. Kyai Aa Gym menyampaikan; "Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini". Berpedoman pada motto tersebut, biarlah kita mulai dengan yang kecil dan rasakan uasaha itu tumbuh menjadi besar, seirama dengan penghayatan pengetahuan serta pengalaman yang kita peroleh dari pertumbuhan usaha yang kita jalani. Dalam salah satu kisah sukses usaha seluler, ada seorang pengusaha di Bekasi, Jawa Barat yang ia tidur dikosnya di awal-awal usaha, dimulai dengan hanya sebuah etalase. Ia ingin mengetahui dan mengenal tren konsumen setiap saatnya, sehingga dia mempunyai "record" harian. Jam berapa dan hari apa ramai serta jam dan hari apa sepei pembeli. Hingga kini tumbuh menjadi su-dealer, dalam jangka 1,5 tahun.